Pengamat nilai layanan penerbangan haji Garuda telah baik

Tahun ini, ‘demand’ pesawat ‘wide body’ Garuda meningkat, ketika bersamaan ‘demand European High Season’ juga meningkat
Jakarta – Pengamat penerbangan Gerry Soejatman mengkaji layanan angkutan haji tahun 2024 oleh maskapai penerbangan Garuda Nusantara telah baik, semata-mata semata turun akibat bertepatan dengan musim "European High Season" atau musim puncak kunjungan wisatawan ke Eropa.
"Kita harus pahami menurunnya (layanan angkutan haji) kenapa? Di di lokasi ini kan kita dapat lihat, sebab 'apes' hambatan timing musim haji bentrok dengan European High Season," kata Gerry dihubungi ANTARA di Jakarta, Minggu.
Menurut Gerry, musim penerbangan haji yang mana bersamaan dengan European High Season terbentuk sejak tahun 2020. Hanya belaka akibat adanya pandemi Wabah maka kesulitan itu tak berefek.
Dia mengungkapkan pada tahun 2021 juga 2022 ukuran haji kecil sehingga masih mampu di-cover oleh armada Garuda Tanah Air sendiri. Lalu, pada tahun 2023 summer season demand untuk pesawat wide body (pesawat berbadan lebar) Garuda masih belum besar sehingga masih bisa jadi di-cover pula oleh armada sendiri.
"Tahun 2024 ini, demand untuk pesawat wide body Garuda meningkat, lalu pada waktu bersamaan demand European High Season tahun ini juga meningkat," tutur Gerry.
Dia menyebutkan pada akhir 1980-an lalu awal 1990-an, dimana Idul Adha berada ke musim liburan Eropa. Garuda pun waktu itu terpaksa mengambil pesawat dari maskapai yang dimaksud kurang mumpuni.
Namun pada waktu itu, kata Gerry, agar penerbangan haji tiada terdampak risiko maka Garuda menerbangkan penerbangan haji menggunakan pesawat sendiri, sementara penerbangan reguler memakai pesawat sewa.
"Hasilnya, penerbangan hajinya beres, tapi penerbangan regulernya berantakan, lalu itu sangat merugikan Garuda akibat merusak reputasinya," katanya.
Menurut Gerry, pada waktu ini hingga beberapa tahun ke depan, penerbangan haji akan sulit bagi Garuda untuk mendapatkan vendor pesawat sewa yang digunakan berkualitas.
Hal itu akibat musim penerbangan haji yang mana bersentuhan dengan European High Season, dan juga ini akan terjadi hingga beberapa tahun ke depan.
European High Season periode waktu kunjungan wisatawan mencapai puncaknya pada saat cuaca hangat dan juga cerah menciptakan destinasi wisata dalam Eropa sangat populer. Selama periode ini, pesanan pesawat juga cenderung lebih besar tinggi.
Menurutnya, high season dalam Eropa berpengaruh terhadap penerbangan haji sebab maskapai penyedia pesawat sewa yang dimaksud bagus juga biasa digunakan oleh Garuda, semua untuk high season serta tidak ada ada spare capacity yang biasa disewakan.
"Akibatnya risiko gangguan terhadap penerbangan haji tahun ini cukup tinggi," jelasnya.
Gerry mencatatkan jumlah keseluruhan persoalan hukum yang terjadi, yakni pertama pesawat Boeng 747 Terra Avia (Moldavia) di Makassar yang tersebut terbakar mesinnya sebab compressor stall.
Kedua, Eastern Airlines Boeing 777-200ER di dalam Solo, sempat "mogok" beberapa hari; ketiga Airbus A340, dari dua yang digunakan datang belaka 1 yang datang ke awal fase keberangkatan; dan juga keempat San Marino Executive A330-300 yang digunakan harus kembali mendarat darurat ke Solo akibat kerusakan mesin.
"Hal ini berbeda dengan pesawat yang disewa Garuda dari Thai Air Asia yang tersebut cenderung trouble free selama musim haji, sejenis seperti halnya pesawat-pesawat A330 Lion Air yang tersebut digunakan oleh FlyNAS ke Afrika selama musim penerbangan haji yang digunakan juga relatif trouble free tahun ini," ujar Gerry.
Dia menambahkan pesawat yang disewa itu merupakan ACMI lease atau wet lease, dimana penyedia selain menyediakan pesawat bertanggung jawab menyediakan crew, maintenance pesawat juga asuransi pesawat.
"Jadi kendala-kendala maintenance yang terbentuk ke pesawat haji yang dimaksud disewa adalah tanggung jawab penyedia, tidak Garuda Indonesia," kata dia.
Gerry berharap Garuda Indonesia melakukan upaya lobby untuk maskapai penyedia pesawat yang mana sanggup disewa untuk haji agar bisa/mau menyewakan untuk Garuda pada musim haji tahun depan yang dimaksud lebih lanjut baik.
"Setelah tahun depan, maskapai-maskapai yang dimaksud mau menyewakan akan mulai bertambah akibat fase pemulangan tiada akan sepenuhnya berada pada European High Season," imbuh Gerry.
Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menegaskan bahwa pihaknya terus mengintensifkan bermacam langkah mitigasi di mengoptimalkan kelancaran penerbangan haji guna menjamin fokus keselamatan penerbangan dapat terus terjaga.
Dia tidaklah memungkiri terdapat beberapa catatan krusial keterlambatan penerbangan pada keberangkatan beberapa orang kloter dari beberapa embarkasi pada mana salah satunya sebab adanya beberapa orang penyesuaian jadwal penerbangan pada kloter keberangkatan.
“Kami pastikan manajemen beserta seluruh grup yang dimaksud bertugas terus bekerja keras mengerahkan segala upaya untuk memperbaiki hal tersebut, diantaranya dengan turut mengoptimalkan kesiapan armada penerbangan haji melalui pengaplikasian pesawat yang digunakan pada waktu ini dioperasikan untuk penerbangan reguler," kata Irfan pada pernyataan di dalam Jakarta, Awal Minggu (27/5).
Artikel ini disadur dari Pengamat nilai layanan penerbangan haji Garuda sudah baik





