Mengurangi Beban Subsidi Negara dari Tumpukan Sampah

BALIKPAPAN – Meningkatnya populasi penduduk Indonesia memproduksi konsumsi energi nasional mengambil bagian melonjak. Dalam satu dekade terakhir, konsumsi energi dalam di negeri melejit sebesar 60%. otoritas pun menambah alokasi anggaran ketahanan energi pada Rancangan Anggaran Pendapatan juga Belanja Negara (RAPBN) 2025. Jumlahnya sangat besar, mencapai Rp421,7 triliun.
baca juga: Konsumsi LPG Nonsubsidi Turun, ESDM Pantau Perpindahan ke Gas Melon
Anggaran jumbo itu akan diguyurkan untuk subsidi juga kompensasi energi bagi rakyat Indonesia. Selama ini, subsidi energi yang tersebut meningkat setiap tahun menjadi salah satu beban keuangan negara. Dari kategori jenis energi, konsumsi gas elpiji atau LPG untuk konsumsi rumah tangga yakni LPG 3 kg terus meningkat.
Tahun ini, pemerintah menganggarkan subsidi untuk gas yang dikemas di tabung berwarna hijau muda itu sebesar 8,02 jt ton, lebih tinggi besar dari tahun lalu. Melonjaknya beban subsidi LPG itu tentu akan berpotensi semakin membebani keuangan negara di tempat masa depan. Terlebih, apabila kesadaran publik untuk bijak pada menggunakan energi bersubsidi masih rendah.
Karenanya, pemakaian beragam alternatif sumber energi perlu ditingkatkan, salah satunya pemanfaatan sampah menjadi biogas yang dimaksud mampu dimanfaatkan untuk memenuhi keperluan energi rumah tangga.
Data Sistem Pengetahuan Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) menyebutkan, hingga Juli 2024, dari 290 kabupaten/kota se-Indonesia besar timbunan sampah nasional mencapai bilangan 31,9 jt ton. Sekitar 63,3% atau 20,5 jt ton dapat terkelola, sedangkan sisanya 35,67% atau 11,3 jt ton sampah tidak ada terkelola.
“Sebenarnya, sampah-sampah itu bisa jadi dikelola sebagai sumber energi gas untuk masyarakat,” ujar Direktur Reforminer Institute Komaidi Notonegoro terhadap SINDOnews pada Jakarta, hari terakhir pekan (16/8/2024).
Dengan diolahnya sampah menjadi gas, ada alternatif bagi warga untuk mendapatkan energi terjangkau yang mana minim bahkan tanpa subsidi. Tak hanya saja sampah, produksi biogas juga bisa saja diadakan di area daerah-daerah yang digunakan menjadi sentra-sentra peternakan dengan mengubah kotoran ternak menjadi gas yang tersebut dialirkan ke rumah-rumah untuk memenuhi keperluan energi masyarakat.
“Tentu itu akan menurunkan beban negara untuk subsidi LPG. Karenanya, pemerintah termasuk pemerintah wilayah perlu proaktif di hal ini,karena sangat potensial,” tuturnya.
Kebutuhan energi menjadi salah satu isu yang dimaksud krusial di dalam seluruh dunia. Di sedang isu transisi energi, sumber energi utama seperti minyak, gas, kemudian batubara total cadangannya semakin berkurang. Karenanya, pengembangan sumber energi terbarukan sangat penting untuk menjaga ketahanan energi kemudian menghurangi dampak buruk terhadap lingkungan.






