Etika Penyelenggara Negara Rapuh Akibat Kaderisasi Pemimpin Tak Berjalan

JAKARTA – Kerapuhan etika pelopor negara disebabkan akibat proses kaderisasi pemimpin yang tersebut bukan berjalan. Banyak pemimpin yang dimaksud muncul sekarang bukan melalui proses alami, muncul secara tiba-tiba hasil rekayasa politik.
Demikian disampaikan Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Muhammadiyah Malang Syamsul Arifin di diskusi bertajuk “Kerapuhaan Etika Penyelenggara Negara: Etika Sosial lalu Pendidikan” yang mana diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di area Universitas Negeri Malang, Jawa Timur.
Menurutnya, berbagai pemimpin yang muncul bukan melalui proses alami, melainkan hasil rekayasa politik. Hal ini menyebabkan level kepemimpinannya dipertanyakan.
“Pemimpin yang sebenarnya diproyeksikan untuk mengambil alih peran kemudian menjaga, serta mengatur dengan kemampuannya. Akan tetapi, ketika ini faktanya sejumlah orang yang digunakan datang secara mendadak dengan adanya rekayasa lalu kemudian diusulkan menjadi pemimpin,” katanya, Selasa (3/9/2024).
Menurutnya fenomena ini mengonfirmasi pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln yang dimaksud menyampaikan karakter seseorang sanggup dilihat pada waktu diberi kekuasaan. Pergeseran paradigma kemunculan pemimpin ini menunjukkan adanya pengaruh negatif kekuasaan terhadap etik. “Kekuasaan memiliki sifat adiktif lalu kemungkinan merusak (corruptible),” ujarnya.
Direktur Eksekutif Pusat Studi Budaya kemudian Perubahan Universitas Muhammadiyah Surakarta Yayah Khisbiyah. Menurutnya adanya kerapuhan etika berkaitan dengan rendahnya tingkat empati Komunitas pada Indonesia.
Hal itu dibuktikan melalui penelitian yang dimaksud dilaksanakan pada 2007 kemudian 2017 terhadap 4 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Jerman, juga Israel. Penelitian yang dimaksud melibatkan anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) itu menunjukkan, Indonesia berada di tempat barisan bawah, bahkan di area bawah Malaysia. “Rendahnya empati ini berkaitan dengan Korupsi terjadi disemua lini dalam Indonesia,” ujarnya.
Rendahnya empati juga maraknya perkara korupsi, lanjut Yayah, juga berkaitan dengan teori psikologi bernama dari triad. Teori itu mengidentifikasi individu dengan tiga sifat kegelapan, yaitu narsisme, perilaku manipulatif, kemudian sifat psikopat yang mana berkaitan dengan lemahnya empati.
Bersama dengan BPIP, Yayah sempat menimbulkan model pembelajaran Pancasila yang dimaksud lebih lanjut aplikatif untuk perguruan tinggi agar mengempiskan permasalahan etika tersebut.
“Pendidikan Pancasila pada era sekarang harus diadakan oleh dengan pendekatan yang mudah diakses lalu tak membosankan khususnya berfokus pada revolusi mental. Perguruan tinggi berbagai yang berminat dengan pendekatan ini,” ujarnya.





